Ada salah satu adegan dalam filem Quickie Express yang saya ingat terus sampai sekarang. Si Tora akhirnya memenuhi ajakan si Oom itu untuk datang ke tempatnya dan dites menggunakan komputer. Yang dites adalah jenis pekerjaan apa yang cocok buat dia. Tora menyangsikan hasil tes itu, ketika dia dites lagi dan hasilnya pekerjaan yang cocok untuk dia adalah dalam bidang MLM, seketika itu juga Tora memutuskan mendingan jadi bencong daripada ikutan MLM. Sebegitu menjijikkannyakah MLM sampai ada ungkapan filmis seperti itu ?
Hari Minggu kemarin akhirnya saya datang juga ke sebuah pertemuan MLM. Saya bilang akhirnya karena sudah dari sejak tahun 1996 saya menerima berbagai ajakan seperti ini. Alasan saya datang kali ini adalah tidak enak dengan adik saya yang sudah berulang kali menanyakan perkembangan saya soal ini. The thing is, dia memasukkan saya ke MLM ini, menjadi downlink langsung dia. Sejak dia masukkan saya, dia sudah mengirimi beberapa materi untuk dibaca, dilihat, dan dicoba. Tapi semua tidak ada yang saya lakukan, sampai kemarin sore. Akhirnya saya coba juga produk klorofil itu (You know which MLM that I mean).
Di satu sisi itu alasannya. Di sisi lain, sudah cukup lama saya mendengar hiruk pikuk tentang Ahira itu, juga baca liputan media massa tentang dia. Di Internet, yang saya dengar adalah kalau tidak suara yang skeptis, pasti suara yang langsung antipati. Sebagai intelektual, rasanya kok naif kalo saya langsung gebyah uyah ikut-ikutan tren pendapat yang ada. Ada satu pikiran di saya, gimana kalau terlibat dulu baru angkat bicara ? Maksudnya tentu, gimana kalo ikutan dulu MLM baru saya bicara ? Apalagi saya adalah sarjana Komunikasi. MLM ini, untuk satu dan lain hal, adalah sebuah kasus komunikasi pemasaran.
Pertemuan itu berlangsung di hotel Istana Bandung. Saya tidak bisa ikut pertemuan itu sampai selesai karena anak saya ada masalah di rumah dan mengharuskan saya pulang. Suasananya sudah seperti yang saya duga. Ada semacam showcase dari orang yang sudah berhasil, testimoni produk, dan pemberian semangat ke mereka yang baru bergabung. Suasananya dibuat meriah dengan musik riang yang keras. Pembawa acara bicara dengan senyum lebar dan ceria, seolah-olah di dunia ini nggak ada masalah apapun. Setiap ada pengisi acara yang akan naik panggung, hadirin diminta berdiri dan tepuk tangan, sementara si pengisi acara itu lari dari belakang hadirin ke arah panggung diiringi suara musik.
Saya gampang bosan dengan sajian seperti itu. Kenapa nggak to the point saja ? Ya semua orang butuh semacam flim-flam kayak gitu, indirectness, entah in case ada orang yang telmi atau supaya lebih persuasif lagi. Dan memang itu yang saya lakukan ketika mau izin pulang. Singkatnya gimana sih, Pak ?
Singkatnya, saya disuruh konsumsi produknya dulu, supaya nanti kalau memprospek orang bisa menyajikan testimoni diri. Sesudah itu tawarkan ke orang lain, entah untuk dikonsumsi mereka atau membuat downline. Pokoknya, kalau mulai ada yang tidak masuk akal di situ, saya akan blog-kan di sini. Sementara ini saya sudah konsumsi dan mulai baca-baca buku dan nonton VCD-nya.
UncategorizedJanuary 28, 2008 4:58 am
Comments »
The URI to TrackBack this entry is: http://mot.blogsome.com/2008/01/28/mlm-revisited/trackback/
No comments yet.
RSS feed for comments on this post.
Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>
