Printer Keluaran Baru = Masalah ?
Produk keluaran baru ternyata belum tentu lebih bagus. Dalam kaitannya dengan printer, saya menemukan bahwa ternyata printer keluaran lama lebih bagus dan terandalkan untuk mencetak pekerjaan hitam-putih sehari-hari. Aneh betul. Semakin baru printer, malah semakin demanding, dan cenderung bermasalah.
Yang saya maksud demanding adalah, printer sekarang ini bisa dipastikan meminta cartridge warna dan hitam sekaligus. Dulu, banyak printer inkjet yang cukup dengan tinta hitam saja sudah bisa jalan. Saya masih memfavoritkan printer lama saya di rumah Canon BJC-210SP, lalu di kantor Canon BJC-255. Sekarang keluaran Canon muncul seri Pixma, yang bukan saja selalu mensyaratkan adanya cartridge warna, tapi juga bunyinya brisik dan guncangannya ketika awal mencetak keras sekali. Ironis. Kita dulu mencetak dengan printer dot-matrix dan dikatakan sebagai printer yang paling berisik se dunia, lalu masuk teknologi inkjet yang kalem, eh, lalu kok keluar yang berisik seperti ini lagi ? Barusan saya mencoba memperbaiki printer HP D-2466 yang ternyata juga sama berguncang dan brisiknya, dan responnya pada perintah CPU lama sekali. Kemarin, Epson R-350, yang lagi-lagi kertasnya tidak mau masuk, lalu kemarinnya lagi HP D-4160 yang kalau ada perangkat USB lain di CPU tidak mau nge-print.
Semalam ada yang kirim SMS meminta saran printer apa yang sebaiknya dibeli untuk kantung mahasiswa. Bingung juga jawabnya. Apakah sebaiknya saya menyarankan beli printer bekas saja ? Yang cukup dengan satu cartridge hitam itu ? Masalahnya adalah, kalau ada printer bagus di pasaran pasti masa edarnya terbatas. Keburu ada printer baru, yang ternyata belum tentu lebih bagus.
Jadi, kalau anda punya printer lama, dan puas dengan itu. Pertahankanlah! Apalagi kalau hanya untuk mencetak pekerjaan sehari-hari yang hitam putih itu.
