HKN adalah Hari Kejepit Nasional. Termasuk hari Jum’at ini, yang diistilahkan sebagai Cuti Bersama. Berita di Koran menyebutkan bahwa hari Jum’at ini tidak jadi libur karena Pemerintah memperhatikan suara dari kalangan pengusaha yang mengatakan bahwa terlalu banyak libur akan menurunkan tingkat produktifitas nasional. Tapi yang saya lihat hari ini, pada kenyataannya ada beberapa Instansi Pemerintah yang pelayanan publiknya down.
Saya mau tanya berapa bayaran listrik bulan ini ke nomer telpon yang biasa, telponnya tidak ada yang ngangkat. Lalu, saya datangi Dinas Kependudukan karena ada urusan mau bikin akte kelahiran, kantornya tutup. Saya konfirmasi silang dengan nelpon ke teman di Diparda, telponnya gak diangkat juga. Jadi, nampaknya karena orang sudah antisipasi akan ada libur jauh-jauh hari, maka pengumuman tidak jadi libur itu malah jadi tidak efektif. Akhirnya ya sama saja dengan libur.
Tapi ini adalah hari terakhir dari HKN. Alias, tidak akan ada lagi istilah hari kejepit atau cuti bersama. Kalau ada libur Kamis, maka Jum’at yang tetap harus masuk kantor, meski Sabtu besoknya sudah libur lagi. Saya pribadi malah senang dengan begini. Sebenarnya apa enaknya terlalu banyak libur ?
Bukan sok mau produktif. Tapi kalau libur itu dengan banyak pekerjaan yang menggantung, atau libur tapi sehari-harinya juga tidak begitu sibuk, buat apa ? Apakah tudingan bahwa kita ini bangsa yang malas itu benar ? Dan sanggahan terhadapnya hanya nasionalisme yang membabi buta ? Masalahnya, bagaimana respon orang-orang pada tidak jadinya libur ini membuat saya berpikir begitu.
Identitas Diri Keturunan Tionghoa
Hari ini kepikiran lagi sesuatu yang sudah lama ingin saya tulis: nama-nama teman-teman anak-anak saya. Kedua anak saya sekolah di tempat yang barangkali 95 % dari teman-teman sebayanya adalah mereka yang keturunan Tionghoa. Saya nggak ada masalah sama sekali dengan keadaan ini. Soalnya yang saya pentingkan adalah mutu pendidikan lembaga itu dan yang penting lingkungannya baik. Sejauh ini tidak ada masalah berkenaan dengan mutu pendidikan dan pengaruh lingkungan, tapi yang bikin saya agak tertegun sejak pertama memasukkan anak-anak saya adalah, nama teman-teman mereka. Kenapa 95 % pula dari mereka dinamai oleh orang tuanya dengan nama-nama dari barat ?
Barangkali memang tanpa melokalisir tempatnya di sekolah anak-anak saya pun, memang sudah banyak nama-nama barat yang dipakai orang, TAPI, … pelafalan dan ejaannya sebagian besar sudah disesuaikan dengan kultur lokal dan bahasa Indonesia, bahkan bahasa daerah. Termasuk nama saya, yang memang nama depannya adalah dari barat. Jelas. Jadi, yang saya maksud adalah nama-nama yang baik pelafalan maupun ejaannya benar-benar 100 % barat. Emang haknya mereka, tapi jadi kepikiran, ini Indonesia atau di luar negeri sono ?
Ambil contoh, mereka punya nama-nama seperti Cathleen, Vincent Cutter, Stephanie, Phoebe, Jessica Arnett, William Anthony, Rainer Joseph …. itu baru sebagian yang saya tahu / kenal karena saya kenal atau dekat dengan orang tuanya. Saya bayangkan, apa sih yang dipikirkan orang tuanya ketika mereka memberi nama anaknya ? Ketika memberi nama anak, orang tua umumnya punya harapan pada anak-anak itu yang dikaitkan dengan namanya. Apakah mereka ingin agar anak mereka suatu ketika go internasional dan nyampur dengan bule-bule yang variasi namanya tidak terlalu jauh dengan mereka ? Iya, saya tahu ada nama baptis, yang hampir 100 % adalah nama-nama asing, tapi bukankah setelah nama baptis itu biasanya diikuti dengan nama-nama lokal ? Ini sih 100 % asli nama barat semua.
Atau apakah ini bagian dari krisis identitas dari orang-orang keturunan Tionghoa di Indonesia ? Jadi, intinya adalah mereka itu merasa bukan asli orang pribumi Indonesia, tapi mereka juga merasa bukan 100 % orang Tionghoa karena terutama kebanyakan mereka nggak fasih berbahasa Mandarin dan sudah tidak punya koneksi langsung ke negeri Tirai Bambu sana. Ke sini enggak, ke sana juga enggak. Ya akhirnya mereka membuat identitas baru aja.
Kenapa saya bilang begitu ? Lha, buktiya kok nggak ada satu pun (SATU PUN !) yang menamai anak mereka dengan nama Tionghoa ?
